Selalu
ingin kuteriakan...
Pagi
ini, AKU BEBAS..!!!
****
. Seperti biasa aku harus bangun pagi, berjalan
menyusuri kompleks, membantu ibu mengambil cucian kotor orang-orang kaya yang
malas mencuci pakaiannya sendiri—tak apa, karena dari situlah aku dan ibu bisa
hidup. Sejak ayah tak ada, ibu harus bekerja keras mencari uang demi mendapat
satu upa nasi untuk aku, ibu, dan kedua adikku. Yang selalu ibu pikirkan setiap
malam, bisakah kami makan esok hari? Bukan ‘makan apa besok?’
Hidup kami memang seperti ini.
Mereka — orang-orang sok pintar yang
duduk sidang di ruang ber-AC — mengatakan bahwa kami adalah orang miskin yang
hanya bisa menyusahkan bangsa, hanya minta belasan kasihan pemerintah. Mau apa
lagi? Suara kami tidak didengar. Aspirasi kami hanya raungan sampah. Bahkan,
kesempatan untuk sekolah pun tak ada untukku. Katanya, karena aku kumuh, ibuku
orang miskin, ibu pasti tidak bisa membiayaiku, sehingga tak ada sekolah yang
mau menerimaku.
Ah,
tak apa.. karena sampai detik ini aku masih percaya jika AKU BISA SEKOLAH!!
****
Hari ini, 2 Mei 2012
Meski
aku tidak sekolah, tapi aku tahu hari ini adalah hari pendidikan — ibu yang
mengatakan padaku. Katanya, ini hari yang sangat penting untuk kemajuan
pendidikan bangsa. Awal perbaikan. Semoga..
Pagi-pagi
sekali aku sudah keluar rumah mencari pelanggan yang mau menerima jasa cuciku.
Kukelilingi kompleks elit itu. Masuk ke rumah satu per satu. Menerima omelan
orang-orang sombong itu. Mereka mengatakan, “Gimana bisa bersih baju gue kalau yang nyuci orang kotor kaya loe?”. “Orang miskin bisanya cuma
berisik!”. Bahkan, mereka menghardikku, “Pergi loe, sampah!”. Jika sudah begini, bisa dijamin aku pulang tanpa
membawa baju kotor, dan kami harus berpuasa lagi, sama seperti hari-hari
kemarin.
Entah
apa yang membuatku tidak langsung pulang seperti biasa setelah mendapat celaan
dari mereka. Aku penasaran pada anak-anak kecil yang kutemui di jalan. Mereka
memakai baju putih, bawahan merah, lengkap dengan dasi dan topi merah. Sepatu
dan tas tak lupa mereka kenakan. Anak-anak itu berbondong-bondong pergi ke
suatu tempat. Apa yang akan mereka lakukan? Mengapa baju mereka sama? Warna
indah pelambang bendera bangsaku, Indonesia. Senyum mereka merekah, penuh tawa.
Ceria. Bahagia. Nasib mereka tentu tak sepertiku. Mereka pasti tak pernah
dihina dan dicela. Mereka tak terasingkan. Hidup mereka tidak susah sepertiku,
dan tidak perlu puasa setiap hari karena nasi pasti selalu ada di rumah mereka.
Aku
ingin seperti mereka, Tuhan.
Akhirnya, kuputuskan untuk mengikuti
mereka. Tak lama, mereka memasuki sebuah gedung megah bercat coklat, berlantai
dua. Pintu gerbang gedung itu besar sekali, seperti pintu istana yang pernah
ibu dongengkan. Di dalam gedung itu, terdapat lapangan yang bersih dan luas
sekali — bisa untuk berkumpul orang se-RT. Di lapangan itu berdiri tiang tinggi
yang di ujungnya berkibar bendera merah putih, bendera negeriku. Ada banyak
ruangan di dalam gedung itu. Aku penasaran, gedung apa ini? Ramai sekali dengan
anak-anak berbaju sama — merah putih. Kulihat ada papan bertuliskan sesuatu dekat
tempat aku berdiri. Tapi — ah, sayang aku tak bisa membaca — aku tak mendapat informasi apa-apa dari papan
itu. Akhirnya, kuputuskan untuk tetep berdiri di sini untuk menikmati indahnya
gedung itu dan mengetahui apa yang mereka lakukan di sini.
Tanpa tersadar kuucap, “Aku ingin di
sana, bersama mereka..”
****
Pagiku lebih mendung dari kemarin. Mukaku
lebam, darah terus mengalir dari hidung dan mulutku. Merintih. Sakit. Menangis.
Tahu mengapa?? Aku dituduh mencuri!! Ya, aku dituduh mengambil tas salah satu ibu
di ruang itu. Pembelaanku gagal. Aku tahu itu, dan aku yakin.. SUARAKU PASTI
TAK DIDENGAR!! “Aku tak mencuri!! Aku tak tahu di mana tas itu. Aku hanya
melewati ruang itu. Ya, itu saja. Hanya itu. Yakinlah!”, hatiku terus
memberontak. Namun.... ah, sudahlah.
Pagi
itu aku turuti lagi rasa penasaranku akan bangunan itu. Tempat penuh keceriaan.
Megah dan mewah. Aku berkeliling di sana, mengendap-endap, tanpa ada yang tahu.
Ternyata bangunan itu memiliki banyak ruangan. Setiap ruangan terdapat banyak orang
— sekitar 30 anak kecil duduk di kursi dan 1 orang dewasa berbicara di depan
mereka. Hampir di setiap ruangan gedung itu, terpampang dengan gagah foto dua
orang penting di negeriku — presiden dan wakilnya —yang ditengahnya dipasang
miniatur lambang negeriku, burung Garuda dengan kepalanya yang selalu menengok
ke kanan. Benar-benar luas dan indah ruang itu. Di sisi lain, ada ruangan besar
dengan meja dan kursi tertata berbeda dengan ruang tadi. Isinya pun bukan
anak-anak kecil, tetapi bapak-bapak dan ibu-ibu. Saat melalui ruang itu, aku
melihat ada seorang ibu yang sedang kebingungan seperti mencari sesuatu. Dia
menggeledah mejanya sambil setengah menangis. Aku tak tahu mengapa, saat dia
melihatku, ibu itu langsung berteriak, “MAALIIIIINNGGG ... !!”. Sontak aku
kaget, aku bingung. Ada apa? Aku tak tahu apa-apa.. Lalu, yang aku tahu, aku
tergeletak lemah dengan darah segar mengalir dari tubuhku, dan semua menjadi
hitam...
****
“Ngapain kamu ke sana, le? Buat apa? Ga ada gunanya!! Ga
percaya sama mbokmu iki?”, Ibu pun memarahiku karena
kejadian itu. “Ibu sudah pernah ke tempat seperti itu dulu, saat Belanda masih
bangga hidup di negeri kita”, Ibu mulai menasehatiku, “kamu tahu tempat apa
itu? Itu yang namanya gedung SEKOLAH, nak! Tempat untuk belajar dan memperkaya
ilmu, tapi kamu tahu? Tempat itu bukan untuk orang-orang seperti kita! Bukan
untuk orang-orang miskin dan pinggiran macam kita ini, yang kata mereka di
sana, bisanya minta gratisan terus!!” Ibu menangis kali ini. Nada bicaranya
semakin meninggi, menahan sesak di dadanya. “Jangan ke sana lagi, nak! Ibu ga
mau kamu sakit seperti ini lagi. Mereka ga akan mau menerima kita yang bau!
Tempat itu hanya untuk orang-orang ningrat, orang terpandang, orang kaya, orang
yang punya uang banyak, anak pejabat, menteri, presiden, tahu? Bukan untuk
kamu, anak seorang tukang cuci!! Tempat itu kejam, nak!!”
Ya, benar kata ibu, tempat itu
kejam. Sekolah itu kejam! Tempat diskriminasi. Mungkin benar, orang sepertiku
tak akan pernah bisa ada di tempat itu. Duduk mendengarkan guru dengan seragam
merah putih dan buku terbuka siap menyimpan ilmu. Kini, harapan itu pupus lagi,
dan terpaksa harus aku buang jauh-jauh. Hatiku sangat yakin sekarang...
Tuhan, aku tak ingin sekolah !!
****
Radetha
25 Juni 2013