Rabu, 22 Januari 2014

Tuhan, Sekolah itu Bukan untukku!

Selalu ingin kuteriakan...
Pagi ini, AKU BEBAS..!!!
****
.           Seperti biasa aku harus bangun pagi, berjalan menyusuri kompleks, membantu ibu mengambil cucian kotor orang-orang kaya yang malas mencuci pakaiannya sendiri—tak apa, karena dari situlah aku dan ibu bisa hidup. Sejak ayah tak ada, ibu harus bekerja keras mencari uang demi mendapat satu upa nasi untuk aku, ibu, dan kedua adikku. Yang selalu ibu pikirkan setiap malam, bisakah kami makan esok hari? Bukan ‘makan apa besok?’
            Hidup kami memang seperti ini. Mereka — orang-orang sok pintar yang duduk sidang di ruang ber-AC — mengatakan bahwa kami adalah orang miskin yang hanya bisa menyusahkan bangsa, hanya minta belasan kasihan pemerintah. Mau apa lagi? Suara kami tidak didengar. Aspirasi kami hanya raungan sampah. Bahkan, kesempatan untuk sekolah pun tak ada untukku. Katanya, karena aku kumuh, ibuku orang miskin, ibu pasti tidak bisa membiayaiku, sehingga tak ada sekolah yang mau menerimaku.
            Ah, tak apa.. karena sampai detik ini aku masih percaya jika AKU BISA SEKOLAH!!
****
Hari ini, 2 Mei 2012
            Meski aku tidak sekolah, tapi aku tahu hari ini adalah hari pendidikan — ibu yang mengatakan padaku. Katanya, ini hari yang sangat penting untuk kemajuan pendidikan bangsa. Awal perbaikan. Semoga..
            Pagi-pagi sekali aku sudah keluar rumah mencari pelanggan yang mau menerima jasa cuciku. Kukelilingi kompleks elit itu. Masuk ke rumah satu per satu. Menerima omelan orang-orang sombong itu. Mereka mengatakan, “Gimana bisa bersih baju gue kalau yang nyuci orang kotor kaya loe?”. “Orang miskin bisanya cuma berisik!”. Bahkan, mereka menghardikku, “Pergi loe, sampah!”. Jika sudah begini, bisa dijamin aku pulang tanpa membawa baju kotor, dan kami harus berpuasa lagi, sama seperti hari-hari kemarin.
            Entah apa yang membuatku tidak langsung pulang seperti biasa setelah mendapat celaan dari mereka. Aku penasaran pada anak-anak kecil yang kutemui di jalan. Mereka memakai baju putih, bawahan merah, lengkap dengan dasi dan topi merah. Sepatu dan tas tak lupa mereka kenakan. Anak-anak itu berbondong-bondong pergi ke suatu tempat. Apa yang akan mereka lakukan? Mengapa baju mereka sama? Warna indah pelambang bendera bangsaku, Indonesia. Senyum mereka merekah, penuh tawa. Ceria. Bahagia. Nasib mereka tentu tak sepertiku. Mereka pasti tak pernah dihina dan dicela. Mereka tak terasingkan. Hidup mereka tidak susah sepertiku, dan tidak perlu puasa setiap hari karena nasi pasti selalu ada di rumah mereka.
Aku ingin seperti mereka, Tuhan.
            Akhirnya, kuputuskan untuk mengikuti mereka. Tak lama, mereka memasuki sebuah gedung megah bercat coklat, berlantai dua. Pintu gerbang gedung itu besar sekali, seperti pintu istana yang pernah ibu dongengkan. Di dalam gedung itu, terdapat lapangan yang bersih dan luas sekali — bisa untuk berkumpul orang se-RT. Di lapangan itu berdiri tiang tinggi yang di ujungnya berkibar bendera merah putih, bendera negeriku. Ada banyak ruangan di dalam gedung itu. Aku penasaran, gedung apa ini? Ramai sekali dengan anak-anak berbaju sama — merah putih. Kulihat ada papan bertuliskan sesuatu dekat tempat aku berdiri. Tapi — ah, sayang aku tak bisa membaca —  aku tak mendapat informasi apa-apa dari papan itu. Akhirnya, kuputuskan untuk tetep berdiri di sini untuk menikmati indahnya gedung itu dan mengetahui apa yang mereka lakukan di sini.
            Tanpa tersadar kuucap, “Aku ingin di sana, bersama mereka..”
****
            Pagiku lebih mendung dari kemarin. Mukaku lebam, darah terus mengalir dari hidung dan mulutku. Merintih. Sakit. Menangis. Tahu mengapa?? Aku dituduh mencuri!! Ya, aku dituduh mengambil tas salah satu ibu di ruang itu. Pembelaanku gagal. Aku tahu itu, dan aku yakin.. SUARAKU PASTI TAK DIDENGAR!! “Aku tak mencuri!! Aku tak tahu di mana tas itu. Aku hanya melewati ruang itu. Ya, itu saja. Hanya itu. Yakinlah!”, hatiku terus memberontak.  Namun.... ah, sudahlah.
Pagi itu aku turuti lagi rasa penasaranku akan bangunan itu. Tempat penuh keceriaan. Megah dan mewah. Aku berkeliling di sana, mengendap-endap, tanpa ada yang tahu. Ternyata bangunan itu memiliki banyak ruangan. Setiap ruangan terdapat banyak orang — sekitar 30 anak kecil duduk di kursi dan 1 orang dewasa berbicara di depan mereka. Hampir di setiap ruangan gedung itu, terpampang dengan gagah foto dua orang penting di negeriku — presiden dan wakilnya —yang ditengahnya dipasang miniatur lambang negeriku, burung Garuda dengan kepalanya yang selalu menengok ke kanan. Benar-benar luas dan indah ruang itu. Di sisi lain, ada ruangan besar dengan meja dan kursi tertata berbeda dengan ruang tadi. Isinya pun bukan anak-anak kecil, tetapi bapak-bapak dan ibu-ibu. Saat melalui ruang itu, aku melihat ada seorang ibu yang sedang kebingungan seperti mencari sesuatu. Dia menggeledah mejanya sambil setengah menangis. Aku tak tahu mengapa, saat dia melihatku, ibu itu langsung berteriak, “MAALIIIIINNGGG ... !!”. Sontak aku kaget, aku bingung. Ada apa? Aku tak tahu apa-apa.. Lalu, yang aku tahu, aku tergeletak lemah dengan darah segar mengalir dari tubuhku, dan semua menjadi hitam...
****
            “Ngapain kamu ke sana, le? Buat apa? Ga ada gunanya!! Ga percaya sama mbokmu iki?”, Ibu pun memarahiku karena kejadian itu. “Ibu sudah pernah ke tempat seperti itu dulu, saat Belanda masih bangga hidup di negeri kita”, Ibu mulai menasehatiku, “kamu tahu tempat apa itu? Itu yang namanya gedung SEKOLAH, nak! Tempat untuk belajar dan memperkaya ilmu, tapi kamu tahu? Tempat itu bukan untuk orang-orang seperti kita! Bukan untuk orang-orang miskin dan pinggiran macam kita ini, yang kata mereka di sana, bisanya minta gratisan terus!!” Ibu menangis kali ini. Nada bicaranya semakin meninggi, menahan sesak di dadanya. “Jangan ke sana lagi, nak! Ibu ga mau kamu sakit seperti ini lagi. Mereka ga akan mau menerima kita yang bau! Tempat itu hanya untuk orang-orang ningrat, orang terpandang, orang kaya, orang yang punya uang banyak, anak pejabat, menteri, presiden, tahu? Bukan untuk kamu, anak seorang tukang cuci!! Tempat itu kejam, nak!!”
            Ya, benar kata ibu, tempat itu kejam. Sekolah itu kejam! Tempat diskriminasi. Mungkin benar, orang sepertiku tak akan pernah bisa ada di tempat itu. Duduk mendengarkan guru dengan seragam merah putih dan buku terbuka siap menyimpan ilmu. Kini, harapan itu pupus lagi, dan terpaksa harus aku buang jauh-jauh. Hatiku sangat yakin sekarang...
            Tuhan, aku tak ingin sekolah !!
****

Radetha
25 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar