Rabu, 22 Januari 2014

My Promise

I
barat sebuah kalimat, perasaanku ini tak kan pernah sampai titik. Tak kan pernah berujung. Ibaratkan sebuah jurang, perasaan ini adalah jurang terdalam yang pernah kujatuhi. Begitulah perasaan ini.
Entah harus bagaimana lagi aku mengungkapkannya. Yang aku tahu, aku nyaman. Aku suka. Setiap pertemuan dengannya adalah kesan yang menakjubkan. Adalah waktu berharga yang tak ingin aku akhiri.
Perasaan itu. Memberi arti baru dalam setiap alunan nafasku. Derai air mata kini tak berarti lagi. Tak peduli apa namanya,  yang jelas... ini awal kisahku.
******************
Awal Januari.
A
ku melihatnya di sana. Sosok sempurna yang membuatku tak lepas dari memandangnya. Dia. Tersenyum pada semua yang menyapanya. Senyum yang membuatku terpana saat itu. Matanya adalah bidik yang tajam. Siapapun yang menatapnya tak kan pernah bisa melepaskan diri. Tajam dan menyejukan. Kau akan betah berlama-lama menatapnya.
Kali ini, saat semua tak menyadari kehadiranku, dia menyapaku. Kali pertama. Menegurku. Dan aku pun hanya bisa melihatnya tanpa mampu membalas senyum dan sapaannya. Aku sudah dibuat tak sadarkan diri oleh sosok itu. Suaranya bagaikan angin yang menyejukan hati. Tepat saat hatiku gersang.
Apapun itu, aku tahu dia lah perasaan itu.
******************
B
erawal dari pertemuan itu, semua menjadi berjalan begitu cepat. Seperti waktu ini, perasaan itu semakin dalam. Menumpuk dan menyesakan. Aku tak tahan. Serasa tak ada tempat lain untuk ‘sesuatu’ yang lain. Hanya itu, hanya satu. Ya, hanya perasaan itu.
Mungkin susah untuk diterjemahkan. Ah, lagi-lagi aku pun tak peduli apa namanya. Cukup aku rasakan saja.  Dan semua terasa nyaman.
******************
Februari.
M
asa ini sangat berharga untuk dilewatkan. Sama seperti perasaanku, sangat berharga jika harus aku lewatkan, karena masa ini adalah masa kesekian kalinya aku menjumpainya dan diam-diam memperhatikannya. Entah, bagaimana.. tapi perasaan itu yang memaksaku untuk melakukannya, berulang-ulang.
Februari hampir sampai di pertengahan. Siapa yang tak tahu masa ini? Masa yang selalu ditunggu-tunggu oleh para perindu. Menanti untuk sekedar menyampaikan rasa rindu dan sayangnya pada siapapun. Begitu pulalah perasaanku, yang tanpa sadar sudah mengajakku untuk menemuinya.
Di taman itu. Dalam perayaan itu. Aku melihat banyak lampu beraneka warna terpapar di sana. Bunga pun terlihat indah menampakan kecantikannya. Sosok itu, ada di ujung sana. Menyendiri dari keramaian. Menatap kerlip kembang api di atas langit. Sendiri.
Kali ini, aku mendekat dan menyapanya. Dia. Kembali tersenyum dan menyapaku. Memulai sebuah percakapan kecil. Bercerita sesukanya. Tertawa meski malu-malu.
Masa itu menyakinkanku. Aku nyaman bersamanya. Semakin nyaman. J
******************
P
erasaan itu semakin luar biasa menyesakkanku. Namun, saat ini ada dia di dekatku. Menemaniku, menumpahkan kesesakan itu. Entah, apa namanya.. lagi-lagi tak bisa aku terjemahkan.
Berbagi kisah dengannya, tertawa bersamanya, bergurau dan bertutur semaunya, kini bukan beban lagi. Dia sangat dekat denganku saat ini, Tuhan. Terasa tak ingin berpisah dengannya. “Tuhan, aku ingin seperti ini. Selamanya”.
******************
Agustus.
K
edekatanku dengannya sudah hampir setengah masa. Namun, sampai setengah masa ini aku belum juga mengerti apa nama perasaan ini. Apa maksud perasaan ini? Perasaan itu tiba-tiba datang. Lalu, menyesakkan hatiku. Perlahan semakin membuatku tak memiliki tempat lain untuk ‘sesuatu’ yang lain di hatiku. Dan kini, perasaan itu membuatku ketagihan, ketergantungan. Tak ingin pisah. Tak ingin jauh. Ya, itu karena dia.
            Perlukah aku ceritakan lagi seperti apa dia? Sosok tampan dan sempurna di mataku. Sosok luar biasa dari ciptaan-Nya. Sosok yang memberi kenyamanan di hatiku. Sosok yang menjadi segalanya bagiku.
            Agustus sudah dipertengahan.
            Ternyata waktu memaksaku untuk menjadi gadis matang. Perayaan hari kelahiranku semakin dekat. Terbayang, akan kuhabiskan waktu itu bersamanya. Menikmati indahnya hari dengannya. Bercerita sepanjang hari tentang perjalanan hidupku hingga saat ini. Terbayang pula, begitu banyak kejutan yang akan dia berikan. Banyak senyuman yang akan aku lihat dari bibirnya. Bahkan, pelukan-pelukan hangat terasa akan menemaniku.
            Waktu itu tiba. Hari indahku tiba. Semua hadiah, ucapan, hingga kejutan sudah datang dari pagi hari. Ulasan senyum dari mereka yang menyayangiku juga sudah aku terima. Tapiii... di mana dia??? Mengapa dia tak ada hingga malam ini?? Lupakah dia dengan hari ini? Dengan janjinya? Jangankan melihatnya, mendengar kabarnya pun tidak ada.
            Ayo lah... aku ingin dia ada di sini, Tuhan. Di waktu ini. Saat ini. Tidak tahukah dia, waktu ini akan segera berakhir? Malam ini akan semakin habis.. L
******************
            16 Agustus.
Dia pergi.. Entah, ke mana..
Pergi, saat aku tahu bahwa perasaan itu adalah CINTA..

Radetha

16 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar