|
I
|
barat sebuah kalimat, perasaanku ini tak kan
pernah sampai titik. Tak kan pernah berujung. Ibaratkan sebuah jurang, perasaan
ini adalah jurang terdalam yang pernah kujatuhi. Begitulah perasaan ini.
Entah harus bagaimana lagi aku
mengungkapkannya. Yang aku tahu, aku nyaman. Aku suka. Setiap pertemuan
dengannya adalah kesan yang menakjubkan. Adalah waktu berharga yang tak ingin aku
akhiri.
Perasaan itu. Memberi arti
baru dalam setiap alunan nafasku. Derai air mata kini tak berarti lagi. Tak
peduli apa namanya, yang jelas... ini
awal kisahku.
******************
Awal
Januari.
|
A
|
ku melihatnya di sana. Sosok sempurna yang
membuatku tak lepas dari memandangnya. Dia. Tersenyum pada semua yang
menyapanya. Senyum yang membuatku terpana saat itu. Matanya adalah bidik yang
tajam. Siapapun yang menatapnya tak kan pernah bisa melepaskan diri. Tajam dan
menyejukan. Kau akan betah berlama-lama menatapnya.
Kali ini, saat semua tak
menyadari kehadiranku, dia menyapaku. Kali pertama. Menegurku. Dan aku pun
hanya bisa melihatnya tanpa mampu membalas senyum dan sapaannya. Aku sudah
dibuat tak sadarkan diri oleh sosok itu. Suaranya bagaikan angin yang
menyejukan hati. Tepat saat hatiku gersang.
Apapun itu, aku tahu dia lah perasaan
itu.
******************
|
B
|
erawal dari pertemuan itu, semua menjadi
berjalan begitu cepat. Seperti waktu ini, perasaan itu semakin dalam. Menumpuk
dan menyesakan. Aku tak tahan. Serasa tak ada tempat lain untuk ‘sesuatu’ yang
lain. Hanya itu, hanya satu. Ya, hanya perasaan itu.
Mungkin susah untuk
diterjemahkan. Ah, lagi-lagi aku pun tak peduli apa namanya. Cukup aku rasakan
saja. Dan semua terasa nyaman.
******************
Februari.
|
M
|
asa ini sangat berharga untuk dilewatkan. Sama
seperti perasaanku, sangat berharga jika harus aku lewatkan, karena masa ini
adalah masa kesekian kalinya aku menjumpainya dan diam-diam memperhatikannya.
Entah, bagaimana.. tapi perasaan itu yang memaksaku untuk melakukannya,
berulang-ulang.
Februari hampir sampai di
pertengahan. Siapa yang tak tahu masa ini? Masa yang selalu ditunggu-tunggu
oleh para perindu. Menanti untuk sekedar menyampaikan rasa rindu dan sayangnya
pada siapapun. Begitu pulalah perasaanku, yang tanpa sadar sudah mengajakku
untuk menemuinya.
Di taman itu. Dalam perayaan
itu. Aku melihat banyak lampu beraneka warna terpapar di sana. Bunga pun
terlihat indah menampakan kecantikannya. Sosok itu, ada di ujung sana.
Menyendiri dari keramaian. Menatap kerlip kembang api di atas langit. Sendiri.
Kali ini, aku mendekat dan
menyapanya. Dia. Kembali tersenyum dan menyapaku. Memulai sebuah percakapan
kecil. Bercerita sesukanya. Tertawa meski malu-malu.
Masa itu menyakinkanku. Aku
nyaman bersamanya. Semakin nyaman. J
******************
|
P
|
erasaan itu semakin luar biasa menyesakkanku.
Namun, saat ini ada dia di dekatku. Menemaniku, menumpahkan kesesakan itu.
Entah, apa namanya.. lagi-lagi tak bisa aku terjemahkan.
Berbagi kisah dengannya,
tertawa bersamanya, bergurau dan bertutur semaunya, kini bukan beban lagi. Dia
sangat dekat denganku saat ini, Tuhan. Terasa tak ingin berpisah dengannya.
“Tuhan, aku ingin seperti ini. Selamanya”.
******************
Agustus.
|
K
|
edekatanku dengannya sudah hampir setengah
masa. Namun, sampai setengah masa ini aku belum juga mengerti apa nama perasaan
ini. Apa maksud perasaan ini? Perasaan itu tiba-tiba datang. Lalu, menyesakkan
hatiku. Perlahan semakin membuatku tak memiliki tempat lain untuk ‘sesuatu’
yang lain di hatiku. Dan kini, perasaan itu membuatku ketagihan,
ketergantungan. Tak ingin pisah. Tak ingin jauh. Ya, itu karena dia.
Perlukah
aku ceritakan lagi seperti apa dia? Sosok tampan dan sempurna di mataku. Sosok
luar biasa dari ciptaan-Nya. Sosok yang memberi kenyamanan di hatiku. Sosok
yang menjadi segalanya bagiku.
Agustus
sudah dipertengahan.
Ternyata
waktu memaksaku untuk menjadi gadis matang. Perayaan hari kelahiranku semakin
dekat. Terbayang, akan kuhabiskan waktu itu bersamanya. Menikmati indahnya hari
dengannya. Bercerita sepanjang hari tentang perjalanan hidupku hingga saat ini.
Terbayang pula, begitu banyak kejutan yang akan dia berikan. Banyak senyuman
yang akan aku lihat dari bibirnya. Bahkan, pelukan-pelukan hangat terasa akan
menemaniku.
Waktu
itu tiba. Hari indahku tiba. Semua hadiah, ucapan, hingga kejutan sudah datang
dari pagi hari. Ulasan senyum dari mereka yang menyayangiku juga sudah aku
terima. Tapiii... di mana dia??? Mengapa dia tak ada hingga malam ini?? Lupakah
dia dengan hari ini? Dengan janjinya? Jangankan melihatnya, mendengar kabarnya
pun tidak ada.
Ayo
lah... aku ingin dia ada di sini, Tuhan. Di waktu ini. Saat ini. Tidak tahukah
dia, waktu ini akan segera berakhir? Malam ini akan semakin habis.. L
******************
16 Agustus.
Dia pergi.. Entah, ke mana..
Pergi, saat aku tahu bahwa perasaan itu adalah
CINTA..
Radetha
16 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar